EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DAN

TELAAH KRITERIA TINGKAT KERUSAKANNYA[1]

Oleh

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS.[2]

Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor

e-mail: cecep_kusmana@ipb.ac.id

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah tropika yang terdiri atas sekitar 17.000 buah pulau dengan panjang garis pantai sekitar 95.181 km dengan kondisi fisik lingkungan dan iklim yang beragam.  Total luas wilayah Indonesia tersebut adalah sekitar 9 juta km2 yang terdiri atas 2 juta km2 daratan dan 7 juta km2 lautan (Polunin, 1983).  Oleh karena itu Indonesia mempunyai ekosistem pesisir yang luas dan beragam yang terbentang pada jarak lebih dari 5.000 km dari timur ke barat kepulauan dan pada jarak 2.500 km dari arah utara ke selatan kepulauan.  Beberapa jenis ekosistem pesisir yang penting di Indonesia, diantaranya adalah agroekosistem (termasuk tambak), ekosistem air tawar (danau, sungai, rawa, marsh), pantai pasir (termasuk hutan pantai), estuaria, hutan rawa terpengaruh pasang surut, mangrove, padang lamun, terumbu karang, ekosistem demersal dan ekosistem pelagik (Burbridge and Maragos, 1985).  Khusus untuk mangrove luasnya saat ini di Indonesia diperkirakan sekitar 3,8 juta ha di dalam kawasan hutan dan 4,8 juta ha di luar kawasan hutan.  Saat ini sekitar 42% (1,6 juta ha) mangrove di kawasan hutan dan 77% (3,7 juta ha) mangrove di luar kawasan hutan sedang mengalami kerusakan akibat overeksploitasi, konversi ke bentuk pemanfaatan lain, pencemar, bencana alam, dan lain-lain.

Di antara berbagai jenis ekosistem pesisir tersebut, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang merupakan 3 (tiga) ekosistem yang mempunyai produktivitas primer yang paling tinggi dibandingkan jenis-jenis ekosistem pesisir lainnya. Rata-rata produktivitas primer kotor dari ketiga ekosistem tersebut adalah hutan mangrove 2.300 – 5.074 g Cm-2 th-1, padang lamun tropika 4.650 g Cm-2 th-1, dan terumbu karang 4.200 g Cm-2 th-1 (Lugo and Snedaker, 1974).

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem interface antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan. Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai fungsi yang spesifik yang berkelangsungannya bergantung pada dinamika yang terjadi di ekosistem daratan dan lautan. Dalam hal ini, mangrove sendiri merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung) dan pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi, pengendali intrusi air laut, mengurangi tiupan angin kencang, mengurangi tinggi dan kecepatan arus gelombang, rekreasi dan pembersih air dari polutan. Kesemua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis oleh ekosistem mangrove. Dengan perkataan lain, mangrove menyediakan berbagai jenis produk yang berguna untuk menunjang keperluan hidup penduduk pesisir dan berbagai kegiatan ekonomi, baik skala lokal, regional, maupun nasional.

Kesemua fungsi mangrove tersebut akan tetap berlanjut kalau keberadaan ekosistem mangrove dapat dipertahankan dan pemanfaatan sumberdayanya berdasarkan pada prinsip-prinsip kelestarian. Hal ini berarti mangrove berperan sebagai sumberdaya renewable jika semua proses ekologi yang terjadi di dalam ekosistem mangrove dapat berlangsung tanpa gangguan.

Artikel lengkap download di sini


[1]Forum Group Discussion (FGD) Penelitian Penegakan Hukum terhadap Perusakan Kawasan Ekosistem Hutan Mangrove,               1 Oktober 2009, Ruang Rapat Gubernur PTIK, Jakarta Selatan

[2] Guru Besar Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.